Waktu sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari lelaki itu masih sibuk
dengan tensimeter dan stetoskop ditelinganya, air raksa pada tensimeter berada
menunjukan sembilanpuluh per limapuluh dan denyut nadi pasien yang dirabanya
tidak begitu teraba dengan kuat. Setelah ia melakukan pemeriksaan fisik ke
pasien tersebut dia langsung melapor ke dokter yang jaga malam itu, dengan
sigap ia melakukan instruksi yang diberikan doter kepadanya. Pasien didepannya
Nampak sangat lemah, nafasnya satu – satu saturasi dilayar monitor menunjukkan
80-90 sebuah angka yang lumayan rendah untuk nafas manusia pada normalnya.
Suara monitor seakan menemani dinas malamnya kali ini, ngantuk yang ia rasa
mampu ditahannya dengan secangkir kopi instant sesekali matanya memperhatikan
pasien – pasiennya. Matanya nananr pikirannya melayang dia teringat suasana
dirumahnya siang tadi. Chika anak sulungnya kelas enam SD minta dibelikan buku
untuk menghadapi ujian akhir nasional dan uang kursus tambahan.Sementara anak
bungsunya si Kiki minta dibelikan sepeda roda tiga. Sang istri menenangkan anak
bungsunya yang terus merengek sepanjang hari karena keinginannya tidak
dituruti.
“tidakkah ada sedikit uang buat mereka pah?” Tanya sang istri
“uang tabungan kita sudah habis
karena menutupi kreditan motor dan uang berobat kiki” jawabnya pelan “bukannya kau liat sendiri di
dompetku tinggal limapuluh ribu, seandainya gajiku tidak ditunggak berbulan –
bulan seperti ini mungkin aku bisa bernafas sedikit lega untuk mengaturnya”
Sang istri menarik nafas “pah,,papah kerja pagi, siang, malam bahkan
pada saat anak sakitpun papah harus kerja tapi penghasilan yang didapat hanya
seperti ini”
Lelaki itu tersenyum tipis sambil menepuk pundak sang istri “sudahlah
syukuri apa yang ada, yang penting ikhlas”
“ikhlas sih boleh pah, tapi kita juga punya kebutuhan, akhir – akhir ini
anak kita Cuma makan mie instant. Bukannya papah sebagai orang kesehatan tau
kalau itu tidak baik buat kesehatan” kata sang istri dengan nada kesal
Lelaki itu tidak hanya diam dan memandang sang istri dengan tersenyum,
dibalik hati nya ia juga sebenarnya tidak tega melihat istri dan anak –anak nya
seperti ini.
Lelaki itu menghirup kopinya dalam – dalam suasana dingin dalam ruangan
merasuk hingga ketulang. Bertahun – tahun ia mengabdi, loyalitas seperti harga
mati namun apa yang ia dapat kadang tidak begitu sebanding dengan energy yang
terkuras. Rasa iri terkadang muncul saat ia melihat saudaranya yang kerja
dikantoran dengan pekerjaan yang tidak begitu beresiko dan waktu yang bisa
dibuat santai tetapi mendapatkan penghasilan yang lumayan dibandingnya, sempat
ia menyesal mengapa ia harus menjadi perawat. Namun saat penyesalan itu datang
hati nuraninya mampu menenangkan bukankah menolong sesama merupakan ladang amal
yang harus dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya. Dia hanya berharap agar Allah
selalu memberinya kekuatan, kesabaran dan keikhlasan menjalani pekerjaan ini
serta mendapatkan rejeki yang barokah untuk anak dan istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar