Selasa, 19 Maret 2013

Cerpen


Waktu sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari lelaki itu masih sibuk dengan tensimeter dan stetoskop ditelinganya, air raksa pada tensimeter berada menunjukan sembilanpuluh per limapuluh dan denyut nadi pasien yang dirabanya tidak begitu teraba dengan kuat. Setelah ia melakukan pemeriksaan fisik ke pasien tersebut dia langsung melapor ke dokter yang jaga malam itu, dengan sigap ia melakukan instruksi yang diberikan doter kepadanya. Pasien didepannya Nampak sangat lemah, nafasnya satu – satu saturasi dilayar monitor menunjukkan 80-90 sebuah angka yang lumayan rendah untuk nafas manusia pada normalnya. Suara monitor seakan menemani dinas malamnya kali ini, ngantuk yang ia rasa mampu ditahannya dengan secangkir kopi instant sesekali matanya memperhatikan pasien – pasiennya. Matanya nananr pikirannya melayang dia teringat suasana dirumahnya siang tadi. Chika anak sulungnya kelas enam SD minta dibelikan buku untuk menghadapi ujian akhir nasional dan uang kursus tambahan.Sementara anak bungsunya si Kiki minta dibelikan sepeda roda tiga. Sang istri menenangkan anak bungsunya yang terus merengek sepanjang hari karena keinginannya tidak dituruti.
“tidakkah ada sedikit uang buat mereka pah?” Tanya sang istri
 “uang tabungan kita sudah habis karena menutupi kreditan motor dan uang berobat kiki”  jawabnya pelan “bukannya kau liat sendiri di dompetku tinggal limapuluh ribu, seandainya gajiku tidak ditunggak berbulan – bulan seperti ini mungkin aku bisa bernafas sedikit lega untuk mengaturnya”
Sang istri menarik nafas “pah,,papah kerja pagi, siang, malam bahkan pada saat anak sakitpun papah harus kerja tapi penghasilan yang didapat hanya seperti ini”
Lelaki itu tersenyum tipis sambil menepuk pundak sang istri “sudahlah syukuri apa yang ada, yang penting ikhlas”
“ikhlas sih boleh pah, tapi kita juga punya kebutuhan, akhir – akhir ini anak kita Cuma makan mie instant. Bukannya papah sebagai orang kesehatan tau kalau itu tidak baik buat kesehatan” kata sang istri dengan nada kesal
Lelaki itu tidak hanya diam dan memandang sang istri dengan tersenyum, dibalik hati nya ia juga sebenarnya tidak tega melihat istri dan anak –anak nya seperti ini.
Lelaki itu menghirup kopinya dalam – dalam suasana dingin dalam ruangan merasuk hingga ketulang. Bertahun – tahun ia mengabdi, loyalitas seperti harga mati namun apa yang ia dapat kadang tidak begitu sebanding dengan energy yang terkuras. Rasa iri terkadang muncul saat ia melihat saudaranya yang kerja dikantoran dengan pekerjaan yang tidak begitu beresiko dan waktu yang bisa dibuat santai tetapi mendapatkan penghasilan yang lumayan dibandingnya, sempat ia menyesal mengapa ia harus menjadi perawat. Namun saat penyesalan itu datang hati nuraninya mampu menenangkan bukankah menolong sesama merupakan ladang amal yang harus dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya. Dia hanya berharap agar Allah selalu memberinya kekuatan, kesabaran dan keikhlasan menjalani pekerjaan ini serta mendapatkan rejeki yang barokah untuk anak dan istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar