Senin, 11 Maret 2013

Rubahlah tanpa perlu menjadi siapa


Berita – berita tentang ketidakadilan di negeri ini membuat saya merasa miris, bagaimana mungkin negara yang katany adil makmur dan sangat menujunjung tinggi nilai persatuan harus seperti ini. Kenyataan yang membuat saya sedih. Ketika saya coba menuangkan uneg – uneg saya di media social teman – teman saya malah menanggapi dengan dingin dan mentertawakan saya “ngapain  kamu berkoar- koar apa yang bisa kamu lakukan untuk mengubah negeri ini, kita ini rakyat jelata, negeri ini punya mereka yang berkuasa merekalah yang bisa merubahnya”. Saya hanya menarik nafas, perasaan marah dan sedih bercampur menjadi satu marah karena mereka terlalu pesimis kepada diri mereka sendiri dan sedih karena ucapan mereka juga ada benarnya saya hanyalah manusia biasa, manusia kecil yang tidak punya kekuasaan apa – apa.
Saya coba merenungkan salah saya apa? Apakah karena saya manusia biasa saya tidak boleh menunangkan uneg – uneg saya, mengkritik kesemerawutan bangsa ini dan memiliki impian untuk kesejahteraannya? Bukankah semua warga negara berhak memilikinya, apa keluh kesah, impian serta kesejahteraan hanya milik mereka – mereka yang berkuasa yang memiliki pundi – pundi rupiah saja?
Saya ingin bersikap apatis, diam dan tak ingin berkomentar apa – apa seperti yang mereka sarankan. Tapi apakah  hati saya bisa diam hanya karena saya masih bisa menyuap nasi dengan tangan saya dan meminum air dengan  sepuasnya .sementara mata dan telinga  saya membaca, melihat, dan mendengar  saat daerah saya direnggut sumber daya alamnya secara habis – habisan kemudian meninggalkan lubang – lubang dan kolam yang merenggut beberapa nyawa anak kecil ditempat saya? menyisakan bencana alam karena hutannya yang sudah gundul, atau saya harus diam ketika teman – teman sejawat saya yang kerja di daerah pedalaman dan perbatasan untuk membantu kesehatan masyarakat  menerima upah dan fasilitas hidup yang tidak sesuai, atau saya harus diam ketika melihat maling sandal jepit di hukum seberat-beratnya sedangkan sang koruptor hidup berkeliaran dengan bebas dan bahkan bisa mencalonkan diri lagi menjadi pejabat dinegeri ini, sementara kaum miskin harus rela berjuang mati – matian mencari sesuap nasi dan bahkan saling tikam - menikam hanya  gara- gara masalah perut. Bagaimana hati saya tidak bicara, jangankan saya, anak SD yang sudah belajar mata pelajaran ppkn pun mungkin mengelus dada melihat ketimpangan ini.
Saya jadi teringat kata Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena megusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit  karena melawan bangsamu sendiri” bahkan bang iwan fals pun berkata “kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang, kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan”
Kita tidak perlu menunggu untuk menjadi Bupati, Gubernur, Anggota dewan, Menteri  atau presiden untuk mengubah negeri ini menjadi yang lebih baik, katakan dan lakukanlah hal kecil yang kau bisa meski mungkin suara kita tidak didengarkan atau tindakkan kita tidak dilihat. Tetaplah berjuang jangan putus asa sebab kita juga memiliki hak yang sama untuk merasa sejahtera dinegara yang kita pijak ini. Lakukan yang terbaik perangi kebathilan, tidak ada yang mustahil bagi Nya karena hanya DIA lah yang bisa  mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Optimis roda hidup manusia selalu berputar  akan  selalu ada jalan untuk orang – orang yang punya niat  baik dan memiliki  tekad yang kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar